Memilih Cowo Gentel/Pemberani ?

Gentleman seorang Lelaki
Apa kabar Girls..?
Kali ini kita omongin soal “gentleman nya lelaki” yuk!

Menurutmu gimana sih ukuran gentleman (kejantanan) seorang laki-laki? Sedikit melototin gambar yang nempel sama note ini deh… keliatan ga? Hehe, langsung cekidot aja yuk


Kejadian 1 : Reza (bukan nama sebenarnya) sibuk mengelilingi mall, hanya untuk mencari sebuah boneka kucing yang besar. Tak lupa sebuket bunga mawar putih. Dia bilang pada pemirsa televisi kalo mawar putih itu tanda kesucian cinta (statement dari mana tuh??). Dia memilih lapangan basket sekolahnya sebagai medan penembakan hati gadis pujaan hatinya. Lain halnya dengan Ridwan (bukan nama sebenarnya juga), dia sibuk mencari-cari restoran yang tak hanya menyajikan makanan lezat tapi juga mau diajak kerjasama dalam menjalankan misi penembakan hati seorang gadis. Dia memesan tempat makan out door yang dilengkapi dengan iring-iringan music syahdu. Dan apa yang dilakukan Reza dan Ridwan ditayangkan di televisi!

Aksi penembakan yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Dilapangan basket yang disaksikan ratusan pasang mata di tempat dan jutaan pasang mata di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Kamu mau nggak jadi pacar aku? “

Yap! Itulah kalimat terakhir yang diucapkan setelah bertele-tele. Si wanita pun tersipu malu. Perasaannya serasa melayang. Bahkan bangga karena dia mampu membuat si lelaki bertekuk lutut. MENGEMIS CINTA dan disaksikan seluruh Indonesia (idih…tayangan mematikan akal)

Kejadian 2 : Rizky menyiapkan diri, mengenakan kemeja biru muda. Badannya berkeringat dan gemetar hebat. Tak ada bingkisan tapi ada persiapan! Hanya berbekal doa yang ia panjatkan beberapa minggu sebelumnya. “Bismillah” gumamnya. Kakinya melangkah menuju rumah wanita pujaan hatinya. Ngapel? Bukan!! Rizky mau menghadap Ayahanda si wanita. Ingin mengutarakan maksudnya untuk menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah Rasul yaitu MENIKAH.

“Maksud kedatangan saya kesini, saya ingin menikahi putri Bapak. Insya Allah saya siap menerima dia lahir batin. Apakah Bapak berkenan?”

Tubuhnya masih gemetar, nafasnya memburu. Peluh keringat mememnuhi pori-pori kulitnya. Pasrah dan tiada henti ia memanjatkan doa kepada-Nya meminta yang hasil terbaik.
***


Tentu, kita sudah tidak asing lagi dengan tayangan di televisi yang menayangkan aktivitas tembak pujaan hati. Persiapan sebelumnya memang agak ribet karena harus terlihat sempurna, agar terlihat betapa tulusnya kita mencintai dia dengan mengorbankan banyak uang untuk membeli property.

Rela membeli setangkai bunga, streofom buat miniatur hati, beli kado yang berisi benda kesayangan si dia. Waduh…waduh…uda berapa rupiah tuh keluar? Bahkan ada yang rela mem-boking restoran mewah, sewa pemain musik (biar ada alunan lagu-lagu melankolis gituu) trus pesan makanan mewah juga. Biar suasana makin komplit. Biar makin keliatan, kalo uda berkorban banyak.

Apakah itu tanda dari cinta suci? Cinta sejati? Tentu bukan!

Tayangan itu meracuni pemikiran kita. Memaksa dan mendoktrin kita apabila sudah cinta terhadap lawan jenis harus diungkapkan dan ikat dengan hubungan bernama “PACAR”.

Belum lagi saya pernah melihat sebuah testimoni tentang tayangan tersebut, menyatakan bahwa cowok yang melakukan aksi penembakan adalah GENTLEMAN (Idiiih…).

“Gentle banget tuh cowok nembak cewek di depan umum gitu. Kalo gue jadi si cewek bangga banget kali”

“Kasian banget tuh cowok di tolak padahal dia uda susah payah ngasih yang disukai tuh cewek. Dasar b**o tuh cewek”

“Ga papa dia ditolak yang penting dia uda gentle nembak”

Padahal kalo menurut saya, lebih gentle, lebih keren, lebih W A W ketika ada lelaki yang mencintai lalu mengajak nikah. Berani mencintai berani menikahi. Kenapa???

Ketika lelaki itu benar-benar cinta, maka dia akan mencari jalan yang diridhoi-Nya. Menikah adalah naungan yang SAH untuk dua insan yang saling mencintai

Bukan sekedar cinta, tapi di niatkan pula IBADAH
Bukan sekedar cinta, tapi di niatkan pula MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA
Bukan sekedar cinta, tapi juga mencari barokah-Nya
Bukan sekedar cinta, tapi di niatkan mengikuti sunnah Rasul
Bukan sekedar cinta, tapi siap membawa ke Jannah-Nya
Bukan sekedar cinta, tapi siap menerima ia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Hanya dengan MENIKAH lah caranya bukan PACARAN…!

“Maksud kedatangan saya kesini, saya ingin menikahi putri Bapak. Insya Allah saya siap menerima dia lahir batin. Apakah Bapak berkenan?”
Nah berani ga tuh?? (pertanyaan buat para lelaki yang mengaku LELAKI SEJATI)



sekian semoga bermanfaat :)
Share on Google Plus

About herii sugandii

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: